Artikel

Berita Media

Berikut adalah beberapa ulasan Media tentang Apartemen Lrt City Ciracas Urban Signature

Dengan seiringnya dipasarkan Apartemen Lrt City Ciracas Urban Signature telah menjadi bahan liputan dan sorotan dari berbagai Media

ACP Segera Bangun Dua Tower Lrt City Ciracas Urban Signature

WartakotaTribunnewscom , 4 Desember 2018

PT Adhi Commuter Properti (ACP), anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. yang bergerak dalam bisnis developer properti, memulai pembangunan (ground breaking) dua tower LRT City Ciracas - Urban Signature, yang berada di sisi stasiun LRT Ciracas Jakarta Timur, Minggu (2/12).

Kedua tower itu adalah Tower Azure sebanyak 1087 unit dan Tower Beige sebanyak 543 unit. Kedua tower ini merupakan pengembangan tahap pertama pembangunan kawasan di lahan seluas 6,2 hektar. LRT City Ciracas - Urban Signature akan mengembangkan 5 tower apartemen.

Amrozi Hamidi, Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti mengatakan, pengembangan kawasan LRT City Ciracas - Urban Signature itu mengadopsi prinsip dasar pengembangan TOD. Prinsip Pertama adalah yaitu ; Walkable, dimana area yang dikembangkan mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Kedua, Shift & Transit, yaitu penghuni dapat mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi, dan beralih menggunakan transportasi umum massal.

Ketiga, Connect, dimana kawasan ini dikembangkan dengan menciptakan jaringan jalan yang saling terhubung. Keempat, Densify, yaitu pengoptimalan kepadatan lahan dengan perencanaan bangunan vertikal, serta Mixed-use Development, untuk mengoptimalisasi tata guna lahan.

“Kami mengembangkan hunian berbasis TOD, tentu untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi missal,” ungkap Amrozi dalam pernyataan resminya, Minggu (2/12).

Dia meyakini, ke depan hunian berbasis transportasi seperti itu akan menjadi pilihan masyarakat, utamanya kaum sub-urban karena selain praktis, hunian ini terintegrasi dengan sistem transportasi massal yang memberikan kemudahan mobilitas bagi penghuninya.

Investasi Rp 2,6 Triliun

Indra Syahruzza, Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran ACP menjelaskan, LRT City Cicaras - Urban Signature merupakan area Mixed-use yang dikembangkan dalam Kerjasama Operasi antara PT Adhi Commuter Properti dengan PT Urban Jakarta Propertindo, dengan nilai investasi 2,6 Triliun.

“Kawasan yang berisi hunian, komersial dan fasilitas pendukung ini, dikembangkan di lahan yang berada berada di sisi stasiun LRT Ciracas,” ujarnya.

Sementara Taufiq Hardiyansyah, Project Director LRT City Ciracas - Urban Signature mengatakan, kawasan itu dikembangkan dengan konsep TOD, yang mengoptimalkan penggunaan angkutan massal, dalam hal ini LRT, serta mengutamakan jalur pejalan kaki dan sepeda.

“Kawasan ini dikembangkan dengan tema “Urban Life Style”, sesuai dengan gaya hidup kaum urban, yaitu Modern, serba cepat, dinamis dan kreatif,” ujarnya.

Konsep Urban Oasis akan diterapkan, dimana kawasan ini akan menjadi oasis yang menyegarkan ditengah hiruk pikuk dan padatnya Ibu Kota Jakarta. Salah satu penerapan konsep itu adalah adanya “Green Belt” di antara tower-tower apartemen.

Serah terima 2021

Dengan luas lahan 312,4 sqm, green belt ini akan menjadi public outdoor activity. Kawasan ini juga akan dilengkapi dengan komersial area, pool dan roof garden, sarana ibadah, event space, plaza, halte, dan stasiun LRT.

“Proyek yang kami kembangkan ini, telah mendapatkan respon positif dari masyarakat. Sejak diluncurkan, sampai saat ini sudah terjual 49 persen dan kami optimis untuk 2 tower ini, akan sold out di tahun 2019. Dalam kurun waktu satu tahun dari harga perdana hingga saat ini telah mengalami kenaikan lebih dari 25 persen," kata Taufiq Hardiyansyah.

Sesuai perencanaan, tower Azure dan Tower Beige akan topping off pada bulan Desember Tahun 2019, dan selanjutnya bisa diserahterimakan kepada pembeli pada Maret 2021.

Taufiq Hardiyansyah menambahkan, sejalan dengan akan beroperasinya LRT Jabodebek tahun 2019, mereka optimis proyek ini akan diserap masyarakat.

“Dengan lokasi yang sangat strategis, hanya membutuhkan waktu singkat menuju pusat kota Jakarta dengan menggunakan LRT. Tentu ini akan menjadi pilihan bagi kaum sub urban, yang berkerja di Jakarta,” pungkasnya.

______________________________________________________________________________________________________________________

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive https://wartakota.tribunnews.com/2018/12/04/acp-segera-bangun-dua-tower-lrt-city-ciracas-urban-signature?page=2.

Penulis:

Editor: Ichwan Chasani4

Mulai Dibangun, LRT City Ciracas Urban Signature Selesai pada 2021

Jakarta, HarianProperty.Com

Berdasarkan data Badan Pusat Statisik, jumlah penduduk DKI Jakarta pada 2015 mencapai 10,18 juta jiwa. Kemudian meningkat menjadi 10,28 juta jiwa pada 2016, dan bertambah menjadi 10,37 juta jiwa pada 2017.

Jumlah penduduk tersebut, masih bertambah setiap harinya, dengan keberadaan warga kawasan sisi luar Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, Depok dan Tangerang, yang tinggal di kawasan luar tersebut, namun memiliki pekerjaan di Jakarta.

Melansir data Biro Pusat Statistik DKI Jakarta di tahun 2016, kendaraan yang berada di Jakarta mencapai 18 juta unit. Dengan total panjang jalan di DKI Jakarta yang mencapai sekitar 7000 km, dampak langsung yang terjadi adalah terjadinya kemacetan yang terjadi hampir setiap hari.

Kerugian akibat kemacetan ini, diperkirakan mencapai 6 Triliun setiap tahunnya. Pemerintah dengan langkah strategisnya, yaitu membangun sistem transportasi massal, baik itu MRT, LRT maupun BRT, diharapkan akan menjadi solusi jangka panjang atas problem kemacetan tersebut.

Peluang mengembangkan kawasan properti berbasis TOD, dibidik oleh PT Adhi Commuter Properti, yang merupakan anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Anak usaha ADHI ini, saat ini tengah mengembangkan beberapa proyek dengan konsep Transit Oriented Development yang berlokasi menyatu dengan stasiun LRT Jabodebek.

Amrozi Hamidi, Direktur Utama PT Adhi Commuter Properti mengatakan pihaknya mengembangkan hunian berbasis TOD, tentu untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan hunian yang terintegrasi dengan sistem transportasi massal.

“Kami yakin, ke depan hunian berbasis transportasi seperti ini akan menjadi pilihan masyarakat. Berkaca pada Negara-negara lain, hunian seperti ini akan menjadi pilihan masyarakat kaum sub-urban, karena selain praktis, hunian seperti ini terintegrasi dengan sistem transportasi massal, yang tentu memberikan kemudahan mobilitas bagi penghuninya.”

Salah satu proyek berbasis TOD yang dikembangkan oleh PT Adhi Commuter Properti adalah LRT City Urban Signature, yang berada disisi stasiun LRT Ciracas Jakarta Timur. Kawasan yang dikembangkan di lahan seluas 6,2 Ha ini, mengadopsi prinsip dasar pengembangan TOD, yaitu ; Walkable, dimana area yang dikembangkan mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Shift & Transit, yaitu penghuni dapat mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi, dan beralih menggunakan transportasi umum massal. Connect, dimana kawasan ini dikembangkan dengan menciptakan jaringan jalan yang saling terhubung. Densify, yaitu pengoptimalan kepadatan lahan dengan perencanaan bangunan vertikal, serta Mixed-use Development, untuk mengoptimalisasi tata guna lahan.

Sementara itu, Indra Syahruzza, Direktur Pengembangan Bisnis dan Pemasaran ACP mengatakan bahwa LRT City Cicaras - Urban Signature, merupakan area Mixed-use yang dikembangkan dalam Kerjasama Operasi antara PT Adhi Commuter Properti dengan PT Urban Jakarta Propertindo, dengan nilai investasi 2,6 T kawasan yang berisi hunian, komersial dan fasilitas pendukung ini, dikembangkan di lahan yang berada berada di sisi stasiun LRT Ciracas.

Sementara itu Taufiq Hardiyansyah, Project Director LRT City Ciracas - Urban Signature mengatakan menyatakan kawasan ini dikembangkan dengan konsep TOD, yang mengoptimalkan penggunaan angkutan massal, dalam hal ini adalah LRT, serta mengutamakan jalur pejalan kaki dan sepeda.

Dikembangkan dengan tema “Urban Life Style”, kawasan ini dikembangan sesuai dengan gaya hidup kaum urban, yaitu Modern, serba cepat, dinamis dan kreatif.”

Kawasan LRT City Cicaras - Urban Signature, akan dikembangan dengan konsep Urban Oasis, dimana kawasan ini akan menjadi oasis yang meyegarkan ditengah hiruk pikuk dan padatnya Ibu Kota Jakarta.

Salah satu penerapan konsep tersebut, adalah adanya “Green Belt” di antara tower-tower apartemen. Dengan luas lahan 312,4 sqm, green belt ini akan menjadi public outdoor activity.

Selain terdapatnya Green Belt area, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan komersial area, pool dan roof garden, sarana ibadah, event space, plaza, halte, dan tentu saja stasiun LRT.

Di lahan seluas 6,2 Ha, LRT City Ciracas - Urban Signature akan mengembangkan 5 tower apartemen.

Pada tahap pertama pembangunan kawasan, akan dikembangkan 2 tower yaitu Tower Azure dengan total unit sebanyak 1087 unit dan Tower Beige dengan total unit sebanyak 543 unit.

Kedua tower ini melakukan ground breaking pada 2 Desember 2018.

Selanjutnya Taufiq Hardiyansyah mengatakan Proyek ini telah mendapatkan respon positif dari masyarakat.

“Sejak proyek ini kami luncurkan, sampai dengan saat ini sudah terjual 49 % dan kami optimis untuk 2 tower ini, akan sold out di tahun 2019. Dalam kurun waktu satu tahun dari harga perdana hingga saat ini telah mengalami kenaikan lebih dari 25%".

Sesuai dengan perencanaan yang ada, tower Azure dan Tower Beige ini, akan topping off pada bulan Desember Tahun 2019, dan selanjutnya bisa diserah terimakan kepada pembeli pada Maret 2021.

Taufiq Hardiyansyah menambahkan, Sejalan dengan akan beroperasinya LRT Jabodebek tahun 2019, mereka optimis proyek ini akan diserap masyarakat.

“Dengan lokasi yang sangat strategis, hanya membutuhkan waktu singkat menuju pusat kota Jakarta dengan menggunakan LRT, tentu ini akan menjadi pilihan bagi kaum sub urban, yang berkerja di Jakarta, “ pungkasnya.

Sumber Referensi : Gunawan https://www.harianproperty.com/Terkini/details/618/Mulai-Dibangun-LRT-City-Ciracas-Urban-Signature-Selesai-pada

Dua Hunian Nempel Stasiun Apit Stasiun LRT Ciracas, Harganya?

Detikcom , 28 April 2019

Seiring dengan laju pembangunan LRT, lahan-lahan di dekat stasiun LRT pun diserbu pengembang properti. Mereka akan melakukan pembangunan kawasan Transit Oriented Development (TOD) alias hunian nempel stasiun.

Dari pantauan detikFinance, Minggu, (28/4/2019), di Stasiun LRT Ciracas saja sudah ada dua lahan kawasan hunian berbasis TOD. Ada Sakura Garden City di utara stasiun, dan LRT City Ciracas Urban Signature di selatannya.

Lalu apa saja yang ditawarkan kedua kawasan hunian ini?

Sakura Garden City sendiri ingin menonjolkan lingkungan hijau pada kawasannya. Rencananya, pengembang akan menyediakan ruang terbuka hijau sebesar 60% dari total luas lahan. Kawasan ini sendiri dikembangkan oleh PT. Sayana Integra Properti.

Untuk apartemennya sendiri, mereka menyediakan tipe studio hingga tipe 3 BR. Apartemen di Sakura Garden City sendiri dibanderol mulai dari Rp 500 juta-an.

Kawasan TOD ini terletak di utara Stasiun LRT Ciracas, kira-kira jaraknya hanya sekitar 250 m. Sakura Garden City juga dapat diakses melalui 2 jalur tol utama, Tol Jagorawi dan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR).

Selain itu ada pula LRT City Urban Signature Ciracas. Kawasan ini merupakan besutan anak perusahaan plat merah PT Adhi Karya.

Tidak jauh berbeda, hunian TOD ini pun menawarkan apartemen dari tipe studio hingga tipe 3 BR. Harganya pun bersaing mulai dari Rp 500 juta-an.

LRT City Urban Signature Ciracas sendiri ingin menonjolkan kemudahan dalam bertransportasi bagi para penghuninya. Selain letaknya yang tidak jauh dari Stasiun LRT(58Meter), kawasan ini pun menyediakan terminal bus khusus Ciracas Shuttle Bus Terminal bagi para penghuninya.

Bagaimana tertarik pindah ke hunian nempel stasiun LRT?

===========================================================================================

Sumber Referensi : https://finance.detik.com/properti/d-4528170/dua-hunian-nempel-stasiun-apit-stasiun-lrt-ciracas-harganya

Covid-19 Bikin Pasar Properti Dari Media Sosial Lebih Gemuk

Rumahcom , 2 April 2020

Wabah global Coronavirus Disease 19 (Covid-19) kembali memukul sektor properti yang pada tahun 2019 lalu sesungguhnya telah menunjukan tren yang meningkat setelah bertahun-tahun lesu. Penyebaran virus antar manusia yang cepat sehingga mengharuskan orang berdiam diri di rumah untuk memutus penyebarannya telah membuat pasar properti kembali terpukul.

Namun, sesungguhnya situasi seperti ini bukannya menghilangkan kebutuhan masyarakat akan produk properti baik untuk hunian, investasi, maupun sekadar menanamkan uangnya di sektor properti karena dianggap lebih aman. Pasar properti tetap ada dan besar sesuai segmennya, hanya saja situasi pandemi membuat fokus orang lebih kepada hal keselamatan dan kesehatan.

Menurut Ali Tranghanda sebagai pengamat properti dan CEO Indonesia Property Watch (IPW), pasar besar yang tengah diam ini suatu saat akan masuk ke pasar dan pengembang harus siap dengan produk maupun strategi pemasaran yang lebih baik. Ini supaya momentum masuknya pasar yang tertunda ini bisa terlayani dengan baik.

“Saat orang berdiam diri di rumah ini, seharusnya pengembang lebih gencar melakukan promosi maupun branding produknya lewat bermacam cara khususnya media sosial. Situasi ini pasti akan membutuhkan recovery lagi, tapi nanti kalau masalah ini sudah berlalu semuanya akan berjalan dengan lebih cepat,” katanya.

Ali memahami akan banyak kalangan pengembang yang kesulitan karena tidak membukukan penjualan dan menganggu cashflow perusahaan sehari-hari. Karena itu harus dibuat langkah-langkah yang drastis seperti menghemat pos-pos yang tidak perlu, melakukan konsolidasi perusahaan di saat anjuran work from home (WFH), dan sebagainya.

Tapi yang paling penting adalah memperkuat branding di media sosial dan terus meningkatkan sistem maupun mekanisme digital marketingnya. Selain wabah virus, efek lain yang juga membuat pasar semakin berat adalah dampak psikologis pasar.Ini hanya bisa ditaklukan dengan terus mengampanyekan maupun branding di sektor properti yang sebenarnya baik-baik saja.

“Pondasi sektor properti kita sangat baik dan dari dulu juga sebenarnya sudah siap untuk kembali bangkit, tapi efek psikologis yang lebih kuat dibanding faktor riil situasi pasarnya itu sendiri. Satu hal lagi dengan adanya wabah ini, pasar dari segmen media sosial itu sangat besar. Wabah ini justru mempercepat kalangan pengembang untuk segera mengaplikasikan content digital marketing yang lebih baik untuk menggairahkan pasar,” bebernya.

========================

Sumber Referensi : rumah.com


Melihat Perbedaan Kondominium, Apartemen Dan Rumah Susun

99co , 29 Okt 2019

Kondominium, Apartemen dan Rumah Susun. Ketiga hal itu terdengar serupa, meski faktanya berbeda. Sudahkah Sahabat 99 mengetahui hal tersebut? Jika belum, mari kita pahami perbedaannya secara seksama lewat penjelasan di bawah ini! Belakangan ini, hunian vertikal atau hunian bertingkat seperti apartemen semakin banyak bermunculan di Indonesia. Konsep hunian bertingkat tersebut, dianggap lebih praktis dan efisien di kota besar yang memiliki jumlah penduduk tinggi namun lahan sangat terbatas. Jika tertarik tinggal di hunian vertikal daripada rumah tapak, maka Sahabat 99 perlu menentukan jenis hunian mana yang cocok dari sekarang. Ada beberapa jenis hunian vertikal tersebut, antara lain rumah susun, apartemen dan kondominium.

Berikut adalah penjelasan lengkap untuk membantu dirimu memahami perbedaan tipe hunian tersebut.

Bedanya Apartemen dan Kondominium :

Sekilas, tampaknya tidak ada perbedaan dari apartemen dan kondominium kecuali penggunaan istilah. Namun menurut pegiat properti Indonesia, ada sedikit perbedaan dari dua hal tersebut. Istilah apartemen berasal dari Amerika Serikat yang merujuk pada satuan hunian yang menempati bagian tertentu dari sebuah gedung. Secara definisi, apartemen merupakan jenis tempat tinggal yang hanya mengambil sebagian kecil ruang dari suatu bangunan. Satu gedung apartemen dapat memiliki puluhan atau ratusan unit apartemen. Di Britania Raya dan negara-negara persemakmuran misalnya, apartemen lebih dikenal dengan istilah flat.

Secara definisi, kondominium merupakan bentuk hak guna perumahan di mana bagian tertentu real estate dimiliki secara pribadi, seperti kamar apartemen. Sementara itu, penggunaan akses ke fasilitas seperti lorong, sistem pendingin, elevator dan eksterior berada di bawah hukum yang dihubungkan dengan kepemilikan pribadi serta dikontrol oleh asosiasi pemilik yang menggambarkan kepemilikan seluruh bagian. Jadi, pemakaian istilah kondominium lebih merujuk pada hak guna bangunan, sementara istilah apartemen lebih menekankan pada fisik bangunan.

Bentuk Kepemilikan :

Di kalangan pegiat properti Indonesia, pembedaan tersebut dikaitkan dengan bentuk kepemilikannya. Istilah apartemen digunakan untuk menunjukkan hunian vertikal yang disewakan, sedangkan kondominium adalah apartemen yang dimiliki masing-masing penghuni. Pemilik kondominium tidak memiliki tanah, atap atau jalan sendiri. Meski demikian, mereka berhak melakukan apapun terhadap unit yang dimiliki. Ia juga bisa menjual atau menyewakan unitnya kepada pihak lain. Alhasil, kondominium dan apartemen memiliki pangsa pasar yang berbeda. Pelaku industri properti di Indonesia menjelaskan bahwa kondominium dapat menjadi alternatif investasi karena dapat dijual atau disewakan. Sementara itu, apartemen cenderung merujuk pada hunian tempat tinggal yang menjulang ke atas (high-rise). Meski demikian, pada perkembangannya, kini apartemen pun sudah banyak yang memiliki status kepemilikan hingga terkadang perbedaan antara kondominium dan apartemen tidak begitu besar. Selain itu, ada juga istilah apartemen servis dan apartemen sewa. Apartemen servis adalah apartemen yang disewakan lengkap dengan layanan harian, sementara apartemen sewa adalah apartemen yang disewakan tanpa layanan harian atau daily service.

Rumah Susun :

Meskipun banyak istilah yang digunakan untuk menyebut hunian bertingkat, dalam peraturan perundang-undangan Indonesia hanya satu istilah yang dikenal, yaitu rumah susun. Ini bisa ditemukan dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. Berdasarkan undang-undang tersebut, rumah susun didefinisikan sebagai bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam. Bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal, dan. Merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.

Faktor utama yang membedakan rumah susun dari Apartemen dan kondominium adalah fasilitas yang ditawarkan.

Umumnya, rumah susun dilengkapi dengan prasarana dasar, seperti jaringan jalan, drainase, sanitasi, air bersih dan tempat sampah. Utilitas umum atau kelengkapan penunjang pada lingkungan rumah susun antara lain adalah jaringan listrik, jaringan telepon dan jaringan gas. Sementara, pada apartemen dan kondominium, tersedia fasilitas yang lebih lengkap mulai dari parkir luas, kolam renang dan sarana kebugaran.

========================

Sumber Referernsi : https://www.99.co/blog/indonesia/kondominium-apartemen-rumah-susun/

Jenis Sertifikat Apartemen yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Membeli !

Kenali Jenis Sertifikat Apartemen

Apartemen memang menjadi salah satu pilihan untuk tempat tinggal karena berbagai fasilitas yang menyertainya disamping berbagai keuntungan yang didapatkan dengan memiliki sebuah apartemen.

Namun, sebelum memiliki sebuah apartemen, tentu kita perlu tahu bagaimana legalitas melalui sertifikat apartemen yang harus diketahui dan bagaimana mengurusnya.

Dalam pembahasan kali ini, kita akan mengulas beberapa hal tentang jenis sertifikat apartemen dan sifat kepemilikan dan juga prosedur serta persyaratan dalam mengurus sertifikat apartemen.

#1 Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) / HGB Milik

Jenis sertifikat apartemen ini sebetulnya adalah pecahan dari Hak Guna Bangunan (HGB), dimana apartemen tersebut dibangun atas lahan milik perorangan atau milik developer.

Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) pada umumnya tidak jauh berbeda dengan Sertifikat Hak Milik (SHM), hanya warna saja yang membedakan jenis sertifikat apartemen tersebut.

Sertifikat Hak Milik (SHM) dicetak dengan sampul berwarna hijau, sedangkan Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) dicetak dengan sampul berwarna merah muda.

Karena kedudukan dari jenis sertifikat apartemen ini termasuk kuat, maka Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) ini dapat digadaikan di bank.

Berkenaan dengan masa berlakunya, Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) / Hak Guna Bangunan (HGB) Milik memiliki masa berlaku hingga 30 tahun. Untuk masa perpanjangannya bisa mencapai 20 tahun.

Prosedur untuk memperpanjang Sertifikat Hak Kepemilikan Rumah Susun (SHKRS) / Hak Guna Bangunan (HGB) Milik pun tidak terlalu rumit.

Cukup dengan mendatangi kantor BPN terdekat dan menyerahkan berbagai berkas yang diperlukan seperti fotokopi KTP, Kartu Keluarga (KK) dan sertifikat asli yang akan diperpanjang.

Setelah diproses oleh petugas BPN selama beberapa waktu melalui prosedur yang berlaku, sertifikat yang telah diperpanjang akan diberikan dalam bentuk Buku Tanah dan Surat Ukur atas Hak Tanah, Gambar Denah Lantai, Pertelaan mengenai besarnya bagian hak atas bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama bagi yang bersangkutan.

#2 Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)

Apabila apartemen yang bersangkutan dibangun bukan di atas tanah milik pribadi atau developer, melainkan dibangun di atas lahan milik pemerintah atau tanah wakaf, maka jenis sertifikat yang diterima adalah Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB)

Sertifikat Kepemilikan Bangunan Gedung (SKGB) akan berupa Salinan Buku Bangunan Gedung, Salinan Surat Perjanjian atas Sewa Tanah, Gambar denah lantai (pada tingkat rumah rusun yang menunjukkan rumah susun yang dimiliki), Pertelaan mengenai besarnya bagian hak atas bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama bagi yang bersangkutan.

Hak Milik Atas Properti

Selain jenis-jenis sertifikat apartemen, ketahui juga jenis hak milik atas properti (Rumah, Tanah & Apartemen) berikut ini.

Berbagai peraturan yang mencakup hal tentang tanah terkandung di dalam Undang-undang Pokok Agraria pasal 4 ayat 1, diantaranya:

Hak Milik, Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Pakai, Hak Sewa, Hak Membuka Tanah, Hak Pengelolaan Lahan (HPL), dan Hak Memungut Hasil Hutan.

Mengenai Hak Pengelolaan Lahan (HPL), biasanya digunakan oleh pengembang di Indonesia namun Hak Pengelolaan Lahan (HPL) tidak termasuk dalam hak atas tanah.

Peraturan tentang Hak Pengelolaan Lahan (HPL) terkandung di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1953 Tentang Penguasaan Tanah-tanah Negara serta Peraturan Menteri Agraria Nomor 9 Tahun 1965.


Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut:

#1 Hak Milik

Mengacu pada Undang-Undang Pokok Agraria pasal 20 ayat 1, Hak Milik adalah hak turun-temurun dan memiliki kedudukan yang kuat di mata hukum.

Hak turun-temurun di sini berarti hak milik atas tanah dapat diteruskan kepada ahli waris selanjutnya selama masih memenuhi syarat sebagai subjek hak milik jika yang bersangkutan meninggal dunia.

Kepemilikan atas Sertifikat Hak Milik (SHM) ini sangat kuat di mata hukum Republik Indonesia dan hanya WNI atau Warga Negara Indonesia saja yang memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) ini.

Kepemilikan atas Sertifikat Hak Milik (SHM) tersebut diantaranya adalah bangunan di atas tanah, tanah di halaman rumah, tanah yang berada di bawahnya serta apa yang ada di atas bangunan tersebut.

#2 Hak Guna Bangunan (HGB)

Jika seseorang memiliki Hak Guna Bangunan, berarti yang bersangkutan berhak untuk mendirikan atau memiliki bangunan di atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu paling lama 30 tahun.

Jangka waktu penggunaan Hak Guna Bangunan (HGB) ini dapat diperpanjang hingga 20 tahun berikutnya.

Mereka yang bisa memiliki Hak Guna Bangunan (HGB) ini adalah Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Republik Indonesia dan berdomisili di Indonesia.

#3 Hak Pengelolaan Lahan (HPL)

Menurut 99.co, Hak Pengelolaan Lahan (HPL) adalah suatu hak yang menyangkut kewenangan seperti merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan, menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan usaha serta menyerahkan bagian-bagian dari tanah itu kepada pihak ketiga menurut syarat yang ditentukan oleh perusahaan pemegang hak tersebut.

#4 Strata Title

Strata title merupakan hak milik atas satuan rumah susun, suatu hak kepemilikan bersama atas kompleks bangunan yang terdiri dari hak eksklusif atas ruang pribadi sekaligus hak bersama atas ruang publik.

Dengan kata lain, jika berada di ruang pribadi seperti unit apartemen milik pribadi atau rumah susun milik pribadi, si pemilik tidak terikat dengan peraturan yang berlaku.

Tetapi ketika yang bersangkutan sedang berada di ruang publik seperti kolam renang, taman dan berbagai fasilitas umum dalam komplek rumah susun atau apartemen, maka salah pemilik unit apartemen atau rumah susun tersebut terikat dengan peraturan yang berlaku karena ruang publik tersebut juga digunakan secara umum oleh para penghuni lainnya.

Berdasarkan penjelasan dari 99.co, konsep strata title memisahkan hak terhadap beberapa strata atau tingkatan, yaitu terhadap hak atas permukaan tanah, atas bumi di bawah tanah dan udara di atasnya.

Sifat Kepemilikan Dalam Kaitannya Dengan Apartemen

Menurut Undang-undang Satuan Rumah Susun (UU No. 20 Tahun 2011) yang dipaparkan oleh Rumah.com, hak-hak yang dimiliki oleh pemilik unit apartemen tidak hanya menyangkut hak milik perorangan, tapi juga hak milik bersama.

Oleh sebab itu, kita perlu memahami beberapa hal berikut ini berkaitan dengan hukum status kepemilikan apartemen.

#1 Kepemilikan Perorangan

Unit apartemen yang dibeli sudah tentu menjadi hak milik perorangan, contohnya jika Anda membeli sebuah unit apartemen seluas 64m2 dengan fasilitas 3 kamar tidur, sebuah dapur, ruang tamu, ruang keluarga dan sebuah kamar mandi.

Unit tersebut sudah pasti menjadi milik Anda dan orang lain atau penghuni lainnya tidak dapat menggunakannya.

Apabila Anda berada di dalam unit yang Anda miliki, Anda tidak terikat dengan peraturan yang ada di ruang publik – meski Anda tetap harus menjaga ketertiban demi kenyamanan bersama dan tidak melanggar hukum.

Anda juga memiliki kebebasan untuk menentukan modifikasi dari desain kamar atau kondisi di dalam unit apartemen atau rumah susun Anda.

Inilah yang dinamakan sebagai hak perorangan.

#2 Kepemilikan Bersama

Selain kepemilikan perorangan, sebagai pemilik unit apartemen kita perlu menghargai kepemilikan bersama.

Kepemilikan bersama artinya ada komponen di lingkungan apartemen atau rumah susun yang menjadi milik bersama dan ada peraturan yang mengikat bersama agar kenyamanan dan ketertiban bersama tetap terjaga.

Berbagai komponen miliki bersama di lingkungan apartemen diantaranya adalah koridor apartemen, lift, kolam renang, jaringan listrik, area bermain anak-anak bersama, ruang terbuka, tempat parkir atau basement dan berbagai fasilitas umum lainnya.

Komponen di lingkungan apartemen tersebut mengandung berbagai peraturan, termasuk biaya atau iuran bersama agar kebersihan bisa tetap terjaga.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber Referensi:
  • https://www.finansialku.com/jenis-sertifikat-apartemen/

  • Admin. 1 Agustus 2019. Jenis Sertifikat Apartemen yang Perlu Diketahui. Lamudi.co.id – https://bit.ly/2k4q6WC

  • Devi Yulia. 16 Oktober 2018. Kenalilah Jenis-jenis Sertifikat Apartemen dan Properti Berikut! Rukamen.com – https://bit.ly/2m3gqw9

  • Admin. 16 Februari 2019. Tentang Sertifikat Apartemen & Rumah Di Indonesia. Wajib Paham! 99.co – https://bit.ly/2m98xFG

  • Admin. 22 Januari 2018. Mau Beli Apartemen? Begini Prosedur Memperoleh Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun. Rumah.com – https://bit.ly/2m16p2y

  • Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. atrbpn.go.id/ – https://bit.ly/2FkpRPg